Review Film: Pretty Boys, Kritik Sosial dengan Cara Cerdas & Menghibur

    0
    88
    Review Film: Pretty Boys, Kritik Sosial dengan Cara Cerdas & Menghibur

    Sadar tidak juga jika sekarang menonton di televisi sudah tidak seperti yang lama lagi? Kurangnya penglihatan untuk anak-anak, terutama kartun, adalah alasan terpisah mengapa anak-anak mengkonsumsi opera sabun sejak usia dini.

    Melihat keresahan ini, Tompi berusaha mengkritiknya dengan cara yang menghibur sekaligus cerdas. Melalui film Anak laki-laki cantik, kita tidak hanya diundang untuk menikmati perjuangan tokoh utama ketika mencapai mimpi tetapi juga menyaksikan kenyataan yang terjadi di sekitar kita.

    Penasaran dengan filmnya? Mendengarkan ulasan film Anak laki-laki yang cantik mari ikuti ini.

    Sinopsis: Ketika Mimpi Harus Dibayar Mahal dengan Pengorbanan

    Anugerah (Vincent Rompies) dan Rahmat (Desta Mahendra) bertekad untuk pergi ke Jakarta untuk mengejar aspirasi mereka untuk menjadi pembawa acara terkenal dan memasuki televisi. Mereka berdua meninggalkan kampung halaman karena merasa tidak ada yang bisa diharapkan di desa-desa terpencil mereka.

    Di Jakarta perjalanan mereka tidak mulus. Ternyata masalah televisi sampai setengah mati. Grace dan Grace harus bekerja di kafe untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun, perjuangan itu tidak sia-sia. Suatu hari mereka mendapat pekerjaan sebagai penonton yang dibayar di salah satu pertunjukan acara bercakap-cakap. Di sana mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka memasuki televisi dan menjadi tuan rumah bersama untuk acara tersebut acara bercakap-cakap.

    Meski terkenal dan mendapatkan pekerjaan yang ia impikan, tetapi Anugerah merasa ada yang salah dengan pekerjaannya. Di atas kesuksesan yang dia rasakan, dia merasa kesal luar biasa karena dia dihadapkan pada dua pilihan, yaitu melanjutkan karirnya atau mengikuti kata hatinya untuk pulang.

    Teknik Pengambilan Gambar yang Tidak Biasa dengan Dominasi City View

    Secara teknis, saya suka tampilan visual film yang disutradarai oleh Tompi. Pengambilan gambar tidak biasanya membuat saya mendapatkan perspektif yang berbeda dari film lain. Salah satunya adalah sudut pandang Grace, Grace dan adegan bos CCTV di mobil. Di mobil yang sempit, kamera diletakkan di luar mobil di samping, dan dashboard sehingga kita bisa benar-benar mengamati apa yang terjadi.

    Selain itu, satu hal yang saya ingat dari film ini adalah panorama dan pemandangan kota yang ditangkap dalam film ini menghasilkan penampilan visual yang menarik. Saat berada di Jakarta, Tompi ingin menunjukkan bagaimana ibu kota berkilauan dengan pemandangan kota di malam hari. Sementara saat berada di desa, panoramic view juga digunakan sehingga kita bisa merasakan perbedaan yang cukup mencolok antara kondisi kota yang ramai dan kawasan pedesaan hijau yang indah.

    Kritik Sosial dengan Cara yang Cerdas dan Menyenangkan

    Tidak hanya lucu dengan humor segar ala Vincent-Desta, kritik sosial juga menjadi hal utama dalam film ini. Dengan penyampaiannya yang menyenangkan, saya hampir tidak menyadari bahwa beberapa adegan dimaksudkan sebagai bentuk kritik sosial, terutama kritik terhadap televisi Indonesia.

    Misalnya, tentang pemirsa bayaran yang baru dibayar gaji setelah tiga bulan acara atau bagaimana selebritas terkadang dieksploitasi oleh manajer mereka sendiri. Saya pikir kritik melalui film ini adalah cara yang cerdas sehingga televisi Indonesia dapat menjadi lebih baik dan meminimalkan kritik seperti yang mereka alami saat ini.

    Kamu menyaksikan Anak laki-laki cantik? Jika Anda sudah menulis pendapat Anda di kolom komentar, oke?

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here